Usai Viral, BBKSDA Papua Temui Gubernur Fakhiri

Jayapura, Voxpapua.com – Gubernur Papua Matius Fakhiri menerima kunjungan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam atau BBKSDA Papua, Johny Santoso Silaban di ruang kerjanya, Jalan Soa Siu Dok II, Kota Jayapura, Senin (27/10/2025).
Sebagai informasi, dalam pertemuan itu, Gubernur Fakhiri bersama Kepala BBKSDA membahas langkah-langkah strategis pasca viralnya video pemusnahan mahkota cenderawasih dan bagian satwa dilindungi lainnya yang menimbulkan keresahan di masyarakat.
Dihadapan Gubernur, Johny Santoso menyampaikan bahwa tindakan pemusnahan yang dilakukan pihaknya sesuai dengan ketentuan hukum positif dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, namun diakui belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek sosial dan budaya masyarakat adat Papua.
“Kami menjalankan tugas sesuai aturan hukum, tetapi memang ada keterbatasan dalam memahami dimensi budaya yang hidup di masyarakat. Karena itu, kami memohon arahan dan dukungan Bapak Gubernur agar ke depan bisa berjalan lebih baik dan selaras dengan kearifan lokal,” kata Johny.
Ia menjelaskan, BBKSDA Papua tidak memiliki fungsi penegakan hukum maupun perlindungan budaya secara langsung, sehingga kolaborasi lintas instansi menjadi penting.
“Sekali lagi kami (BBKSDA) menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Gubernur Papua Matius Fakhiri dan seluruh masyarakat atas kegaduhan yang terjadi,” ujarnya.
Dalam hal ini, kata Johny, Gubernur Papua Matius Fakhiri memberikan arahan agar ke depan dilakukan sinkronisasi antara upaya pelestarian satwa endemik Papua seperti cenderawasih dengan pelestarian budaya masyarakat adat.
“Bapak Gubernur menekankan pentingnya dasar hukum yang kuat melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Daerah Khusus (Perdasus). Dengan adanya payung hukum itu, maka langkah pelestarian satwa dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dan saling menghormati,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Papua bersama pemerintah daerah akan melakukan program sosialisasi dan edukasi ke masyarakat, termasuk pelatihan pembuatan mahkota cenderawasih imitasi atau replika ramah lingkungan sebagai alternatif dalam kegiatan adat dan budaya. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kelestarian satwa sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat Papua. (*)








