Gubernur Lepas 10 Kontainer Kayu Olahan dari Jayapura ke Shanghai

Jayapura, Voxpapua – Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri melepaskan 10 kontainer kayu olahan dari Pelabuhan Jayapura menuju Shanghai, China.
Pengiriman kali ini merupakan tahap kelima sepanjang 2025, menjadikan total ekspor kayu olahan dari Papua sepanjang tahun ini mencapai 43 kontainer dengan total volume 799,4190 meter kubik.
“Langkah ekspor ini menjadi penanda penting dalam pergeseran paradigma ekonomi Papua. Ini menunjukkan Papua tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi telah mampu menghasilkan produk bernilai tambah melalui pengolahan modern, terukur, dan berkelanjutan,” kata Fakhiri di Kota Jayapura, Selasa (25/11/2025).
Menurut Gubernur, ekspor kayu olahan sejalan dengan visi besar Pemerintah Provinsi, yaitu “Transformasi Papua Baru yang Maju dan Harmonis,” khususnya misi Papua Produktif.
Dengan mengembangkan industri pengolahan kayu, Gubernur Fakhiri optimistis Papua akan memperkuat daya saing ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, dan menciptakan peluang usaha baru yang berkelanjutan.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada para pelaku industri kayu yang telah menjunjung tinggi prinsip legalitas, keberlanjutan, dan kemitraan dengan masyarakat adat.
“Pembangunan Papua harus selaras dengan lingkungan dan menghormati hak-hak masyarakat adat. Mereka adalah penjaga hutan dan jantung dari identitas Papua,” ujarnya.
Direktur Utama PT Semarak Dharma Timber, Fery Tamstil, menyatakan ekspor kayu olahan dari Jayapura ke China kini dapat dilakukan tanpa transit di Surabaya. Yang mana seluruh dokumen ekspor diproses di Jayapura sehingga tercatat sebagai ekspor resmi dari Papua.
“Ini sudah ekspor keempat dalam dua bulan. Dalam dua bulan ini kita pecah empat kapal,” kata Fery.
Menurut ia, keberlanjutan pengiriman baru tercapai setelah biaya ekspor di Jayapura ditekan hingga setara Surabaya. Ia juga menyebut biaya tinggi sebelumnya menjadi hambatan utama bagi pelaku usaha.
“Biaya-biaya di Jayapura yang sebelumnya mahal. Tetapi sekarang sudah sama persis dengan Surabaya,” ujarnya.
Dikatakan, penurunan biaya terjadi pada beberapa komponen, terutama survei Sucofindo dan layanan karantina. Fery mengapresiasi dukungan Dinas Perdagangan Papua, Dinas Kehutanan, Bea Cukai, Balai Karantina, dan Sucofindo yang dinilai membuka jalur ekspor yang lebih kompetitif.
Oleh karena itu, tegas ia, sekarang tidak ada lagi alasan untuk lewat daerah lain karena ekspor langsung dari Jayapura lebih murah.
“Kalau harganya masih mahal, tidak mungkin kita bisa ekspor dari Jayapura. Jadi pengiriman langsung lebih efisien dibanding rute via Surabaya, Jakarta, atau Makassar. Semoga kondisi ini mendorong lebih banyak pelaku usaha mengekspor produk mereka dari Jayapura,” harapnya.
Sementara itu, Pelaksana tugas Kepala Dinas Perindagkop Papua, Anton Yoas Imbenai, menambahkan kolaborasi lintas sektor dan negara ini adalah wujud nyata dari misi Papua Cerdas, yang mendorong hadirnya teknologi, pengetahuan, dan tata kelola modern di Papua.
“Kami berharap kerja sama ini terus berkembang dan membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat Papua dan mitra internasional,” kata Imbenai. (*)








