Eropa di Persimpangan Jalan: Tantangan Integrasi dan Ancaman Populisme dalam Uni Eropa
Opini

Pendahuluan
Eropa sering kali dibayangkan sebagai kawasan yang stabil, makmur, dan demokratis. Namun, dalam dua dekade terakhir, realitas politik Eropa menunjukkan gejala fragmentasi, ketidakpastian, dan tantangan terhadap nilai-nilai dasar yang telah lama dijunjung. Proses integrasi Uni Eropa (UE), yang sebelumnya dianggap sebagai model keberhasilan regionalisme, kini dihadapkan pada tantangan dari dalam: munculnya populisme, keluarnya Inggris dari UE (Brexit), dan meningkatnya nasionalisme sayap kanan.
Integrasi Eropa dan Harapan Persatuan
Integrasi Eropa yang dimulai dengan Traktat Roma 1957 dan terus berkembang hingga Traktat Lisbon 2007 telah melahirkan struktur kelembagaan yang ambisius dan kompleks. Dinan dalam *Europe Recast* menjelaskan bahwa UE bukan sekadar pasar ekonomi, melainkan proyek politik yang bertujuan menghapus rivalitas nasional dan membentuk identitas Eropa bersama.Namun, sebagaimana ditunjukkan Nugent dalam *The Government and Politics of the European Union*, lembaga-lembaga seperti Komisi Eropa, Parlemen, dan Dewan Eropa sering kali dituduh elitis dan jauh dari rakyat.
Kesenjangan antara pengambil keputusan dan masyarakat umum ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok populis.
Populisme dan Sayap Kanan: Ancaman dari Dalam
Partai populis kanan seperti Lega di Italia, Rassemblement National di Prancis, dan Fidesz di Hungaria semakin mendapat dukungan.
Menurut Cas Mudde dalam *The Far Right in Europe*, kelompok-kelompok ini memainkan narasi anti-imigran, anti-globalisasi, dan anti-Uni Eropa. Mereka mengeklaim mewakili ‘rakyat biasa’ melawan ‘elit Brussel’.Fenomena ini memperlihatkan krisis representasi dalam demokrasi Eropa. Ketika warga merasa aspirasi mereka tidak tersampaikan melalui saluran resmi, mereka cenderung mencari alternatif yang ekstrem.
Brexit: Gejala atau Awal Disintegrasi?
Brexit adalah manifestasi paling konkret dari tantangan integrasi Eropa. Dalam “All Out War”,
Tim Shipman menjelaskan bahwa Brexit bukan hanya dipicu oleh isu imigrasi dan kedaulatan, tetapi juga oleh kegagalan elite politik Inggris menjelaskan manfaat keanggotaan UE kepada publik.Meski sejauh ini belum ada negara lain yang mengikuti langkah Inggris, Brexit tetap menjadi preseden bahwa keanggotaan dalam UE bukanlah sesuatu yang permanen.
Penutup: Mencari Keseimbangan Baru
Uni Eropa harus menghadapi kenyataan bahwa integrasi ekonomi tidak otomatis menghasilkan kohesi politik. Tantangan seperti populisme, krisis migrasi, dan nasionalisme memerlukan respons yang lebih dari sekadar kebijakan teknokratis.Sebagai mahasiswa yang mempelajari dinamika kawasan Eropa, saya percaya bahwa masa depan UE tergantung pada kemampuannya menjembatani kesenjangan antara pusat dan pinggiran, elite dan rakyat, serta antara ide universal dan identitas nasional. Eropa sedang berada di persimpangan jalan, dan arah yang dipilih hari ini akan menentukan masa depannya selama beberapa dekade ke depan.
Daftar Bacaan
– Dinan, Desmond. *Europe Recast: A History of European Union*.- Nugent, Neill. *The Government and Politics of the European Union*.- Mudde, Cas. *The Far Right in Europe*.- Shipman, Tim. *All Out War: The Full Story of Brexit*.
Opini oleh: Sheva Gustiansyah Gunawan Siompo
Mata Kuliah: Politik dan Pemerintahan Timur Tengah
Dosen Pengampu: Petrus Farneubun, S. PD., MA., M.IA. (*)







