Demokrasi yang Tertunda: Mengapa Arab Spring Tidak Menghasilkan Transformasi Politik yang Berkelanjutan di Timur Tengah
Opini

Pendahuluan
Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu wilayah yang paling kompleks dalam lanskap politik global. Selain kaya akan sumber daya alam, kawasan ini juga menyimpan sejarah panjang kekuasaan, kolonialisme, dan konflik berkepanjangan. Salah satu peristiwa paling menentukan dalam dekade terakhir adalah meletusnya Arab Spring pada tahun 2010-2011 awalnya dianggap sebagai titik balik menuju demokratisasi, namun realitas politik saat ini justru menunjukkan kemunduran atau stagnasi dalam reformasi politik. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa Arab Spring gagal mengantarkan transformasi politik yang berkelanjutan di Timur Tengah?
Arab Spring: Harapan yang Berumur Pendek
Arab Spring membawa euforia perubahan di Tunisia, Mesir, Libya, Suriah, dan Yaman. Massa turun ke jalan menuntut keadilan, kebebasan, dan penghapusan rezim otoriter. Namun, seperti yang diulas oleh Marc Lynch dalam The Arab Uprising, momentum tersebut dengan cepat direbut kembali oleh kekuatan lama baik dalam bentuk militer, monarki, maupun kekuatan eksternal.Kudeta militer tahun 2013 di negara Mesit membalikkan proses demokrasi yang baru saja dimulai. Di Suriah dan Yaman, gelombang protes berubah menjadi konflik bersenjata yang berkepanjangan. Sementara itu, Tunisia sebagai satu-satunya “success story” justru menghadapi kemunduran dalam hal stabilitas politik dan keamanan. Kegagalan ini memperlihatkan bahwa demokrasi bukan hanya soal mengganti rezim, akan tetapi membangun lembaga politik yang inklusif dan kuat, sesuatu yang masih sangat langkah di kawasan ini.
Faktor Penghambat Demokratisasi
Pertama: peran militer sangat dominan dalam politik Timur Tengah. Zoltan Barany dalam Armies of Arabia menjelaskan bahwa militer bukan hanya alat pertahanan negara, tetapi juga aktor politik utama. Militer sering kali bertindak sebagai penjaga status quo dan penghalang perubahan struktural. Kudeta di Mesir dan intervensi militer di Sudan adalah contoh nyata.Kedua: sistem ekonomi rentier yang dikaji oleh Beblawi & Luciani dalam The Rentier State memperkuat rezim otoriter. Negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi dan UEA tidak bergantung pada pajak rakyat, sehingga tidak ada tekanan demokratis dari bawah. Mereka dapat membeli legitimasi politik melalui subsidi dan proyek populis.Ketiga: politik identitas dan sektarianisme yang kerap dipelihara oleh elite politik untuk memecah oposisi telah memecah belah masyarakat. Ketegangan Sunni-Syiah, nasionalisme Arab, dan konflik etnis menjadi alat politik yang efektif untuk mempertahankan kekuasaan.
Peran Eksternal dan Kepentingan Global
Kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Iran memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah. Hinnebusch & Ehteshami dalam The Foreign Policies of Middle East States menunjukkan bahwa intervensi asing sering kali menghambat proses transisi politik yang otentik. Misalnya, dukungan AS terhadap otoritarianisme di Mesir pasca-kudeta menunjukkan standar ganda dalam promosi demokrasi. Intervensi Rusia di Suriah pun mempertahankan kekuasaan Assad dengan harga krisis kemanusiaan yang sangat besar.
Penutup: Demokrasi Masih Mungkin, Tapi Jalan Terjal
Arab Spring mengungkap potensi besar rakyat Timur Tengah untuk berubah, tetapi juga menunjukkan betapa kuatnya hambatan struktural yang mereka hadapi. Demokrasi tidak bisa tumbuh tanpa reformasi kelembagaan, penguatan masyarakat sipil, dan pengurangan peran militer serta intervensi negara asing dalam politik domestik.Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa memahami politik Timur Tengah tidak cukup dengan melihat siapa yang berkuasa, tetapi juga mengkaji bagaimana kekuasaan itu dipertahankan. Kegagalan Arab Spring adalah pelajaran penting bahwa demokrasi bukan sekadar peristiwa, tapi sebuah proses panjang yang membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan konsistensi berbagai pihak.
Daftar Bacaan
– Lynch, Marc. *The Arab Uprising: The Unfinished Revolutions of the New Middle East*.- Zoltan Barany. *Armies of Arabia: Military Politics and Effectiveness in the Gulf*.- Beblawi & Luciani. *The Rentier State*.- Hinnebusch & Ehteshami. *The Foreign Policies of Middle East States*.
Opini oleh: Sheva Gustiansyah Gunawan Siompo
Mata Kuliah: Politik dan Pemerintahan Timur Tengah
Dosen Pengampu: Claudia Renyoet, S. IP, MA. (*)







